Apa yang Dilakukan Ketika Detik – Detik Melahirkan

Sakit yang berhari – hari dirasakan tiap malam selama lima hari sangat membuatku merasakan kepayahan yang sangat, apalagi disertai dengan asam lambung yang naik. Perut tidak mau menerima makan , setiap makan slalu muntah…masya Allah baru kali ini hamil dengan kepayahan yang sangat. Dan tentu saja setiap malam harus diiringi nangis berderai – derai karena sakit kontraksi perut.

Dihari yang kelima rasa kontraksi tidak berhenti diwaktu sepertiga malam,biasanya di pukul 02.00ke atas dini hari kontraksi akan berhenti sendirinya tapi kali ini kontraksi tidak berhenti dan mulai teratur hinga subuh dan terus mnerus..hingga saat anak – anak masuk sekolah, akupun mulai flex dan saat itulah ketegangan dimulai. Dan segeralah melakukan prepare untuk kelahiran, karena kelahiran maju 3 minggu dari HPL oleh sebab itu saat itu juga segera packing.
Apa saja yang dipersiapkan dan dilakukan :
  • Baju bayi, popok, gurita, bedhong, selendang dan segala perlengkapan lainnya.
  • Baju Busui,jarik / sarung, stagen dan perlengkapan lainnya
  • Tas Bayi dan Ibu

  • Dompet (uang )
  • Madu karena setiap makan muntah maka harus mnyediakn minuman yang manis karena akan mmbutuhkan tenaga.
  • Kipas (biasanya saat menunggu detik – detik pembukaan rasa sakit kontraksi yang semakin sering, akan mengeluarkan keringat karena gerah )

  • Buku saku dzikir ( saat merasakan kontraksi dan menanti pembukaan normal maka ibu harus banyak dzikir / tilawah dan doa, dan tidak teriak dengan kata- kata yang buruk , karna terkadang saat itu seperti spontan saat kontraksi terjadi walau rasa kontraksi hanya beberapa detik tapi sakitnya tidak bisa dikatakan dengan kata – kata , karena itulah jihadnya wanita )

  • Saat terjadi kontraksi terjadi untuk mengurangi rasa sakit dan mempercepat pembukaan lakukan gerakan jongkok dengan kaki berjinjit dan tangan lakukan di atas, bisa dilakukan didepan suami dimana tangan diatas sambil berpegangan badan suami atau bisa didinding atau tempat tidur kamar bersalin

    Alhamdulillah kelahiran berjalan dengan lancar, Ibu dan bayi sehat semua. Dan smoga putra kami menjadi anak sholeh qurota a’yun taat kepada Allah dan sebagai umat Rasulullah SAW..aamiin

Advertisements

Sebuah Perjalanan Medeking

Kubuka facebook ditengah malam, ditemani suara kipas angin yang menderu karena saking tuanya itu kipas,  ketika terbangun dan tidak bisa terlelap kembali. Di berandaku ada status untuk mendoakan seorang kawan yang sedang berjuang melahirkan dan belum sadar ( semoga beliau segera sadar dan sehat kembali..aamiin).

Tentu saja ini membuatku untuk membuka akun beliau untuk melihat perjalanan kehamilan beliau. Hanya satu status yg kubaca , ya beliau menanti kelahiran ke 3…Dan ini membuatku langsung berpikir kemana-mana.

Akupun jadi flashback, beberapa bulan lalu ketika liburan ke mertua , dua kakak sepupu suami juga melahirkan buah hati mereka yang ketiga dan qodarullah dengan beberapa ujian yang harus ditempuh saat hamil dan melahirkan.

Dan ada beberapa orang dan teman mengatakan : ” iya mbak, biasanya untuk kehamilan ketiga itu..bla..bla..bla”.

Statement inilah yang menghantuiku sampai detik ini. Walaupun suami sudah selalu melarang untuk berpikir aneh-aneh, tapi..namanya juga wanita..ya gitu deh…pastilah mikirnyaa, sampai berbulan-bulan..hahaha gak bisa “move on”.

Kenapa statement itu menghantuiku? Karena akupun sedang menanti kelahiran buah hatiku yang ketiga…hikz (lebay bombay..)
Akhirnya akupun curcol sama Ibu tentang ini dan apa coba yang ibu sampaikan?
 “Iya nduk kalau ketiga itu memang akan “medeking” ” ,
“Apa itu medeking Mi?”
“Medeking ya medeking”
hmmm dalam hatiku : pasti sesuatu yang gak enak deh..

Dan semakin mantab lagi setiap ketemu tetangga, juga menyatakan hal yang sama…huhuhu…(nangislah batinku ).

Akhirnya kulewati hari demi hari untuk menuju hari kelahiran sang buah hati  ketiga kami, yang kami tunggu 7tahun lamanya. Kebahagian yang membuat kami harus selalu bersyukur.

Dan, memang berbeda, sangat berbeda dalam kehamilan ketiga ini, entah faktor U,  yang memang beda dengan kehamilan kakak-kakaknya yang waktu itu usiaku masih kinyis-kinyis..halah :D. Atau aku sudah terpatri hati dan pikiranku tentang statement tersebut ? Entahlah…akupun ingin bertanya pada ilalang yang bergoyang ditiup angin..

Saat ini yang kurasakan adalah bagaimana merasakan kehamilan dimana benar seorang Ibu yang hamil mengalami kepayahan, dari setiap aktivitas, jalan, nafas pendek, “bleeding”, ngurus suami dan anak-anak dan “umbe rampe  ” lainnya. Ingin rasanya menagis tiba-tiba , manja yang gak ketelungan, ingin makanan A dibelikan tapi gak jadi dimakan ( hahaha… kalau ini nafsu kata temenku ) dsb.

Dan hanya suamilah yang sangat berperan saat ini :
a.Menguatkan
b.Mengalihkan pikiran yang negatif
c.Ususnya suami harus lebiiiiih panjaaang lagi..hahaha..berapa lapis?  ratusan..kayak iklan aja ya…
d.Membantu pekerjaan
e.Membantu menghandle anak-anak
f.Menjadi suami siagalah singkatnya…

Tapi pikiranku terus melayang kemana-kemana, bagaimana dengan ibu hamil yang dtinggal suaminya bekerja jauh /LDR, suaminya dirantau. Ditambah mengurusi kakak-kakaknya, mengurus dapur agar tetap mengepul…owh masya Allah..pahala begitu besar untukmu wahai istri dn para Ibu hamil…

Ah sudahlah…aku harus mulai membuang jauh-jauh statement “medeking” itu, toh saat aku googling tentang medeking waktu itu juga belum ketemu atau belum membaca ya..(garuk-garuk, lupa ), saat ini juga ingin browsing lagi karena masih penasaran tapi sinyalkupun sedang melayang.

Seharusnya aku bersyukur dan bersyukur bisa merasakan semua ini dan bersabar dari mengeluh.

Tulisan ini ditulis 10Swptember 2016
Dipengungsian Ngruki

In sya Allah akan menulis lebih tentang medeking